Selasa, 14 Desember 2010

APAKAH ISTRI AKAN BERTEMU DG SUAMI DI AKHIRAT.??

Al-Qur’an mengajarkan
bahwa hubungan antar manusia di
akherat kelak berbeda dengan apa
yang ada di dunia ini : [23 :101 ]
Apabila sangkakala ditiup maka
tidaklah ada lagi pertalian nasab di
antara mereka pada hari itu, dan
tidak ada pula mereka saling
bertanya. Di dunia ini kita harus
menjalani kehidupan dengan ikatan
yang saling kait-berkait dengan
individu lainnya, kita terlahir dari
rahim seorang ibu yang
mengandung karena dibuahi oleh
seorang ayah, maka otomatis kita
sudah terlahir mempunyai orang-
tua, lalu dari hubungan anak dan
orang-tua tersebut muncul hak dan
kewajiban yang ditetapkan oleh
ajaran agama. Demikian pula ketika
kita beranjak dewasa dan sudah
cukup umur, kita lalu menikah,
maka hubungan pernikahan
tersebut membuat kita terkait
dengan individu lain yang juga
memunculkan adanya hak dan
kewajiban yang diatur oleh ajaran
agama. Hubungan tersebut
diciptakan Tuhan dengan dibungkus
oleh perasaan : antara cinta dan
benci, terpaksa dan sukarela, suka
dan tidak suka, semuanya
berproses silih berganti yang
menjadi dasar adanya dinamika
peradaban manusia. Lalu disaat
Tuhan membangkitkan semua
manusia diakherat untuk diminta
pertanggung-jawabannya terhadap
apa yang dilakukan mereka
sehubungan dengan hak dan
kewajiban dunia tersebut, maka
semua ikatan termasuk perasaan
yang melandasinya akan dihapus.
Jangan anda kira ketika anda sebagai
seorang ayah/ibu yang sedang
dituntut atas segala perbuatan anda
di dunia, lalu anak- anak anda akan
melakukan pembelaan karena ‘tidak
tega’ melihat anda diadili, demikian
pula sebaliknya. Semua individu
akan mempertanggung-jawabkan
diri mereka sendiri : [6 :94 ] Dan
sesungguhnya kamu datang kepada
Kami sendiri-sendiri sebagaimana
kamu Kami ciptakan pada mulanya,
dan kamu tinggalkan di belakangmu
(di dunia) apa yang telah Kami
karuniakan kepadamu; dan Kami
tiada melihat besertamu pemberi
syafa'at yang kamu anggap bahwa
mereka itu sekutu- sekutu Tuhan di
antara kamu. Sungguh telah
terputuslah ( pertalian) antara kamu
dan telah lenyap daripada kamu apa
yang dahulu kamu anggap (sebagai
sekutu Allah). Bukan cuma manusia
lain yang dulunya punya hubungan
nasab dengan kita, bahkan sesuatu
yang kita jadikan sandaran kita di
dunia juga tidak bisa berbuat apa-
apa, sandaran tersebut bisa
berbentuk : Tuhan yang lain, atasan,
penguasa, guru, kiyai, pendeta, dll,
semuanya menghadap Allah
mengurus diri sendiri. Bahkan bisa
saja terjadi, seorang anak yang di
dunia telah kita terlantarkan, atau
seorang istri yang tidak pernah kita
didik untuk patuh dan taat kepada
Allah, bersaksi terhadap segala
kezaliman kita tersebut, dan
kesaksian mereka akan menyeret
kita masuk neraka. [16 :111 ]
(Ingatlah) suatu hari ( ketika) tiap-tiap
diri datang untuk membela dirinya
sendiri dan bagi tiap-tiap diri
disempurnakan ( balasan) apa yang
telah dikerjakannya, sedangkan
mereka tidak dianiaya (dirugikan).
Bagaimanakan cara kita
menggambarkan perasaan dan
ikatan kita satu sama lain nantinya di
akherat..?? apakah kita bisa
membayangkan perasaan kita
terhadap anak kita yang saat ini kita
sayangi, atau suami/istri yang kita
kasihi, ketika nanti dikaherat semua
perasaan tersebut sudah
dihapus..??. Sebenarnya apa yang
diinformasikan oleh Al-Qur ’an ini
bisa kita jelaskan melalui akal sehat
kita. Kalaulah perasaan yang
melandasi hubungan kita satu sama
lain di dunia masih berlaku di
akherat kelak, maka seorang ayah/
ibu yang masuk surga tidak akan
merasa nyaman dan tenteram
disana ketika ternyata anaknya
bernasib sial masuk neraka,
demikian pula sebaliknya,
bagaimana mungkin seorang istri
yang sangat mencintai suaminya ‘
sampai ke pojok surga’ bisa hidup
bahagia ketika mengetahui ternyata
si suami yang didambakan
dijebloskan di neraka..? ?. Maka
keputusan Allah untuk
menghilangkan hubungan nasab
dan perasaan yang melandasinya di
akherat tersebut merupakan suatu
keniscayaan dan bisa diterima akal
sehat kita, karena memang
demikianlah seharusnya. Allah
menjelaskan bagaimana perasaan
manusia nanti di surga : [7 :43 ] Dan
Kami cabut segala macam dendam
yang berada di dalam dada mereka;
[15 :47 ] Dan Kami lenyapkan segala
rasa dendam yang berada dalam
hati mereka, sedang mereka merasa
bersaudara duduk berhadap-
hadapan di atas dipan- dipan. Tidak
ada lagi perasaan tersinggung,
cemburu, sakit hati terhadap
perilaku penghuni surga yang lain.
Al-Qur ’an menyuruh kita untuk
berpikir soal ini dengan cara
memperbandingkannya dengan
kehidupan kita di dunia : [56 :60 ]
Kami telah menentukan kematian di
antara kamu dan Kami sekali-sekali
tidak akan dapat dikalahkan, [56 :61 ]
untuk menggantikan kamu dengan
orang- orang yang seperti kamu
(dalam dunia) dan menciptakan
kamu kelak (di akhirat) dalam
keadaan yang tidak kamu ketahui.
[56 :62 ] Dan Sesungguhnya kamu
telah mengetahui penciptaan yang
pertama, maka mengapakah kamu
tidak mengambil pelajaran (untuk
penciptaan yang kedua)? Ayat
tersebut menginformasikan bahwa
bagaimana persisnya keadaan kita di
akherat kelak merupakan suatu yang
tidak bisa kita bayangkan karena
belum pernah ada bandingannya di
dunia ini. Ibarat kita menyodorkan
kalkulator kepada masyarakat
primitif, mereka tentu saja punya
alat untuk melakukan penghitungan
seperti batu dan ranting kayu, lalu
ketika diberikan kalkulator untuk
melakukan penghitungan, maka
pastilah mereka akan kebingungan
karena buat kaum primitif, kalkulator
merupakan benda ‘yang tidak
pernah terbayangkan’ sebelumnya,
sekalipun kalkulator merupakan
penyempurnaan dari sarana
berhitung yang ada pada mereka.
Demikian juga dengan manusia,
saat ini kita punya tubuh dan
pranata/sistem yang kita kenal
dalam menjalani kehidupan, apakah
kita mampu membayangkan
bagaimana persisnya bentuk tubuh
dan sistem kehidupan yang
merupakan penyempurnaan dari
apa yang kita miliki saat ini..??
Namun secara cerdas, ayat Al-
Qur ’an tersebut menggiring kita
untuk memikirkannya, ketika Allah
menyatakan ‘Dan Sesungguhnya
kamu telah mengetahui penciptaan
yang pertama, maka mengapakah
kamu tidak mengambil pelajaran ’,
artinya Allah menyuruh kita untuk
melihat perumpamaannya. Kita bisa
membayangkan kalau seandainya
kita dilahirkan kembali ke dunia,
memulai lagi proses kelahiran dari
rahim seorang wanita, lahir,
menjadi bayi dan tumbuh dewasa,
apakah kita akan berusaha
mengulangi kembali kehidupan kita
yang dahulu..?? apakah kita akan
mencari-cari istri yang kita cintai
pada kehidupan terdahulu..?? apakah
kita akan berusaha kembali
mengumpulkan anak-anak yang kita
sayangi dulu.. ?? Apakah kita akan
'dibakar api cemburu' ketika tahu
istri kita dahulu yang telah menitis
kepada sosok yang lain ternyata
menemukan jodohnya yang lain
pula, atau marah-marah melihat
anak kita di kehidupan terdahulu
ternyata menitis menjadi anak orang
lain..?? Anda juga bisa memakai
perumpamaan ini untuk periode
sebaliknya, jika kehidupan anda saat
ini adalah titisan dari hidup anda
sebelumnya, apakah saat ini anda
sedang mencari-cari dimana istri
anda dulu..?? atau berusaha
menemukan ayah-ibu anda
dahulu..?? Tanya Jawab Masalah
Islam jam 18 49 kemarin Tentu
saja tidak demikian, kita akan
berproses sesuai jalur kehidupan
yang sudah ditentukan, mencari
jodoh sesuai takdir kita, melahirkan
anak yang berbeda. Demikianlah
desain hidup kita dahulu, maka itu
juga yang berlaku bagi kita pada
kehidupan selanjutnya. Perintah
untuk berpikir melalui
perumpamaan tersebut sebenarnya
sudah bisa memberikan gambaran
bagaimana nantinya kita di akherat
terkait hubungan antara manusia,
bahwa kita akan menjalani
kehidupan yang baru sebagai
bentuk penyempurnaan kehidupan
kita di dunia.. jangan khawatir
terhadap suami anda nantinya,
apakah masih bersama anda atau
sudah ‘dibajak’ oleh para bidadari.
Yang sebaiknya anda lakukan adalah
mendo ’akan suami dan anak-anak
agar mereka selalu dilindungi Allah
dan mendapat kebaikan kelak di
akherat, memastikan apakah suami
dan anak-anak selalu bisa
menjalankan apa yang diperintah
oleh Allah, disamping tetap
berusaha untuk memperbaiki diri
terus-menerus, menjadi istri yang
salehah. Suami dan keluarga adalah
sarana anda untuk berbakti kepada
Allah, menjadi ‘medan tempur’ yang
bisa anda manfaatkan untuk meraup
pahala sebanyak- banyaknya.
Mencintai suami sepenuh jiwa dan
raga tentu saja merupakan sikap
yang mulia, namun hal tersebut
tetap harus dikaitkan dengan
kecintaan anda kepada Allah semata.
Bagi netters Kristen yang sinis dan
dengki, mudah-mudahan tulisan ini
bisa menjawab dan menghapus
penyakit yang ada dalam hati anda
dalam melihat kebenaran dan
keagungan ajaran Islam, bahwa
pertanyaan yang selama ini anda
ajukan, hanya datang dari kebekuan
hati sehingga tidak mampu lagi
menuntun pikiran anda melihat
persoalan secara jernih. Bagaimana
Keadaan Seorang Istri di Surga
Adapun jika seorang wanita
meninggal sebelum dia sempat
menikah dengan seorang laki-laki
maka Allah lah yang menikahkannya
kelak di surga dengan seorang lelaki
dunia, sebagaimana sabda
Rasulullah saw, ”Tidaklah ada di
surga seorang bujang.” (HR.
Muslim). Syeikh Ibnu Utsaimin
mengatakan bahwa jika seorang
wanita belum menikah di dunia
maka Allah swt yang
menikahkannya dengan seseorang
yang menyedapkan pandangan
matanya di surga. Kenikmatan di
surga tidaklah terbatas untuk kaum
laki-laki akan tetapi untuk kaum laki-
laki dan wanita dan diantara
kenikmatan itu adalah pernikahan.
Demikian halnya dengan seorang
wanita yang meninggal dalam
keadaan sudah dicerai. Demikian
pula terhadap seorang wanita yang
suaminya tidak masuk surga,
Syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan
bahwa seorang wanita yang masuk
surga dan belum menikah atau
suaminya tidak termasuk kedalam
ahli surga maka jika wanita itu
masuk surga dan di surga terdapat
lelaki dunia yang belum menikah
maka seorang dari merekalah yang
menikahinya. Adapun seorang
wanita yang meninggal setelah
menikah dan dia termasuk ahli
surga maka di surga dia akan
bersama suaminya yang
menikahinya saat meninggalnya.
Adapun seorang wanita yang
ditinggal suaminya terlebih dahulu
kemudian ia tidak menikah lagi
setelahnya hingga dia meninggal
dunia maka wanita itu akan menjadi
istrinya di surga. Adapun seorang
wanita yang ditinggal suaminya
terlebih dahulu kemudian ia menikah
lagi setelah itu maka wanita itu
menjadi istri bagi suaminya yang
terakhir walaupun wanita itu pernah
menikah dengan beberapa laki-laki,
sebagaimana sabda Rasulullah saw,
” Seorang istri untuk suaminya yang
terakhir.” (Silsilatu al Ahadits ash
Shahihah Lil Albani) dan perkataan
Hudzaifah kepada istrinya, ”Jika
engkau mau menjadi istriku di surga
maka janganlah engkau menikah
sepeninggalku. Sesungguhnya
seorang istri di surga adalah untuk
suaminya yang terakhir di dunia.
Karena itu Allah swt mengharamkan
istri-istri Nabi untuk kmenikah
sepeninggal beliau saw karena
mereka adalah istri- istrinya saw di
surga. ”

1 komentar: